Krisis Eropa yang berkepanjangan, merosotnya imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS dan pemburukan dolar kini menjadi lebih 'berkilau' ketimbang emas. Investor mulai 'mencairkan' emas untuk aset-aset dolar. Harga emas yang sempat menembus rekor tertingginya di US$ 1.900 per ounce selama September, tercatat sudah merosot hingga 8% dalam 2 pekan terakhir. Penurunan terbesar hingga seperempatnya terjadi pada Senin (20/9/2011) kemarin.
Dalam beberapa bulan terakhir, emas telah dipandang sebagai salah satu tempat investasi aman yang paling solid, terutama ketika negara-negara maju harus menghadapi perlambatan ekonomi dan tingginya utang sehingga harus mendapatkan kucuran likuiditas, berbarengan dengan melemahnya mata uang.
Selain itu, kebijakan stimulus fiskal dan moneter yang masif dikhawatirkan bisa memicu inflasi sehingga mendorong kenaikan harga emas. "Saya telah menarik tanduk saya sedikit, dan bertahan mendekati netral. Hal-hal di belakang pikiran saya adalah situasi di Eropa," ujar Gregory Whiteley, yang mengelola portofolio surat utang pemerintah di Dobleline Capital dengan aset US$ 16 miliar.
Vice Chairman Loomis Sayles, Dan Fuss yang mengelola aset asing hingga US$ 160 miliar mengatakan, perusahaannya nilai meningkatkan eksposure aset-aset dolar AS selama musim panas karena tidak meredanya masalah di Eropa dan perekonomian AS yang mulai tumbuh.
Fuss mengatakan, eksposure dolar Loomis telah meningkat dari 60% menjadi 70%, sementara eksposure non-dolar turun dari 40% menjadi 30%.
"Kami meningkatkan eksposure pada aset-aset dalam dolar AS juga dikarenakan dunia sedikit menakutkan. Ada pergerakan taktis jangka pendek. Itu menyatakan, AS masih sangat jauh sebagai tempat berutang terbaik di dunia," ujarnya. Beberapa analis mengatakan, penurunan emas mungkin sebuah tanda, investor yang telah masuk sejak awal mulai mengambil untung.
"Emas telah kehilangan sedikit kilaunya, tapi emas adalah satu dari beberapa aset yang telah mencetak keuntungan jangka pendek untuk setiap orang belakangan ini," ujar Greg Salvaggio, vice president Tempus Consulting.
Sementara Adnan Akan, kepala forex Fischer Trancis Trees & Watt Faktanya, emas mungkin termasuk beberapa aset yang bisa dijual investor untuk menutup kerugian pada saham-saham dan aset berisiko lainnya.
"Anda mendapat kegugupan, pergerakan yang bergejolak seperti yang kita lihat sekarang dan orang-orang harus menjual apa yang mereka miliki," ujarnya.Mekanisme yang sama cenderung untuk mendorong dolar AS pada waktu yang penuh tekanan karena investor yang membeli pada tingkat suku bunga terendah untuk membeli aset-aset yang imbal hasilnya lebih tinggi, harus buru-buru membeli kembali ketika aset-aset itu mulai turun nilainya.
Para pialang memperkirakan emas bisa rebound jika menembus US4 1.700 per ounce karena para pembeli mencari posisi untuk gain ke depannya. Harga emas terakhir berada pada US$ 1.778,49 per ounce. Sementara harga logam mulia dari Antam adalah Rp 572.000 per gram.
Sumber: DetikFinance
Tidak ada komentar:
Posting Komentar